Rabu, 21 Maret 2012

Kandungan Ayat Kursi

kandungan Ayat Kursi PDF Print E-mail
Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Assegaf   
Thursday, 16 December 2010 02:08
Kandungan Ayat Kursi
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ 
Diturunkannya
Turunnya di malam hari dan saat turun Nabi memanggil Zaid untuk langsung menulisnya.
Muhammad al-Hanafiah mengatakan: Ketika turun ayat kursi berjatuhan berhala di dunia begitu juga berjatuhan mahkota dari kepala raja-raja, berlarian setan sehingga berbenturan antara satu dengan lainnya lalu datanglah Iblis yang memberitahukan kepada mereka bahwa, telah turun ayat kursi.
Kemuliaannya:
  • Dari Ubay bin Ka’ab: Ayat yang termulia dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. (HR.Abu Daud) Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasul bersabda:
سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ
Penghulu ayat-ayat al-Qur’an adalah ayat Kursi. (HR.Thurmudzi)
  • Berkata Ibnu Abbas; Ayat yang termulia dalam al-Qur’an. Di dalam ayat ini disebutkan nama Allah secara terang-terangan dan tersembunyi sebanyak delapan belas kali.
  • Ibnu Athiyyah; Ayat ini sangat mulia karena di dalamnya menyebut tentang sifat-sifat Allah (tauhid), ayat ini terdiri dari lima puluh kalimat dan mengandung lima puluh keberkahan.
Anjuran:
ü  Membacanya setiap usai mendirikan sholat.
Dari Anas bin Malik, Rasul bersabda: Allah telah memberikan wahyu kepada Nabi Musa “Barangsiapa yang mendawamkan ayat kursi setiap sholatnya, diberikan kepadanya pahala orang yang bersyukur dan pahala para Nabi, ulama dan dibentangkan baginya rahmat serta tidak menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian”.(Tafsir al-Quthubi, dalam riwayat lain disebutkan dari Ubay bin Ka’ab)
ü  Membacanya ketika hendak tidur. Riwayat dari Abu Hurairah dalam kisahnya:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
Jika engkau naik ke tempat tidurmu maka bacalah ayat kursi, niscaya kamu selalu dalam penjagaan Allah dan tidak akan mendekatimu setan hingga dating waktu pagi.(HR.Bukhari)
ü  Dibaca dalam rumah.
Dari Abu Hurairah, Rasul bersabda: Surat al-Baqarah di dalamnya ada penghulu ayat dan;
لاَ تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ وَ فِيْهِ شَيْطَانٌ إلاَّ خَرَجَ مِنْهُ
Tidak dibaca di dalam rumah dan di dalamnya ada setan kecuali dia keluar dari rumah itu.(HR.Hakim)
Abu Hurairah; Barangsiapa yang membaca ayat kursi di pagi hari niscaya Allah akan menjaganya hingga sore dan siapa yang membacanya di sore hari maka Allah akan menjaganya hingga pagi.(HR.Thurmudzi).
Abu Nuaim; Tidak dibacakan ayat Kursi di rumah di malam kecuali akan keluar dari rumah itu setan dan tidak kembali lagi kecuali di pagi harinya
Makna Ayat
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya);
‘Al-Hayyu’ Salah satu nama Allah artinya “Yang Maha Hidup”, ‘al-Qayyum’ artinya “Yang Maha Menegakkan atau Menjalankan Ciptaan-Nya”.
Nabi Isa saat hendak menghidupkan mayit beliau memohon kepada Allah dengan membaca “Ya Hayyu Ya Qayyum”, begitu juga Ashif bin Barkhiya saat hendak memindahkan singgasana ratu Baliqis. Disebutkan dalam sejarah Bani Israil-pun jika memohon kepada Allah dengan membaca “Ya hayyu Ya Qayyum” terutama saat di lautan.
لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ
Tidak mengantuk dan tidak tidur, Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi
‘Sinatun’ mengantuk, dikatakan mengantuk jika tertidur matanya tapi jika tertidur hatinya maka disebut tertidur.
Disebutkan dalam hadits yang lemah sebuah riwayat dari Abu Hurairah, dahulu pernah terbesit dalam pikiran Nabi Musa apakah Allah tidur, maka Allah mengirim Malaikat dan memerintahkan kepada Nabi Musa untuk memegang dua gelas yang berisikan air, setelah beberapa lama Nabi Musa terkantuk dan hamper saja kedua gelas itu terjatuh. Begitulah Allah membuat perumpamaan jika terkantuk niscaya hancurlah alam semesta ini.
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ الأَ بِإِذْنِهِ
Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya
Dalam ayat ini jelas ditetapka bahwa, Allah memberikan izin kepada siapa yang Dia kehendaki untuk memberikan syafaat. Mereka itu adalah para Nabi, ulama, mujahid, para malaikat dan lainnya yang telah diberikan kemuliaan kepada mereka.
..وَلاَ يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
..Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya .(QS.Al-Anbiya, 28)
Dari Anas bin Malik, Nabi bersabda:
إِنَّ عَبْدًا فِي جَهَنَّمَ لَيُنَادِي أَلْفَ سَنَةٍ يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ قَالَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِجِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام اذْهَبْ فَأْتِنِي بِعَبْدِي هَذَا فَيَنْطَلِقُ جِبْرِيلُ فَيَجِدُ أَهْلَ النَّارِ مُكِبِّينَ يَبْكُونَ ..
Ada seorang hamba di Neraka Jahannam selama seribu Tahun memanggil dengan “Ya Hannan Ya Mannan”, bersabda: Allah berkata kepada Malaikat Jibril “Pergilah dan bawakan kepada-Ku hamba-Ku itu” maka Jibril berangkat dan mendapati penghuni Neraka sedang menangis…(HR.Ahmad)
o  Ibnu Athiyyah: Para ulama dan orang Sholeh dapat memberikan syafaat kepada mereka yang belum masuk ke dalam Neraka, atau sudah masuk ke dalam Neraka tapi pernah melakukan amal sholeh. Para Nabi dapat memberikan syafaat untuk umatnya yang bermaksiat dan telah masuk ke Neraka. Sedang Syafaat waktu hisab hanya Allah berikan kepada Nabi Muhammad.[1]
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (QS.Al-Baqarah, 255)
Dari Abu Dzar, Rasul bersabda:
يَا أبَا ذَرٍّ مَا السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ مَعَ الْكُرْسِي إلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٌ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ وَ فَضْلُ الْعَرْشِ عَلىَ الْكُرْسِي كَفَضْلِ الفَلاَةِ عَلىَ الْحَلْقَةِ
Wahai Abu Dzar, tidaklah langit tujuh jika dibandingkan dengan Kursi kecuali bagaikan lingkaran (gelang/tameng) yang dilemparkan ke tengan padang pasir yang luas, dan keutamaan Arsy jika dibandingkan dengan Kursi bagaikan padang pasir yang luas dengan lingkaran”. (HR.Al-Ajiri, Abu Hatim dan juga Ibnu Hibban dalam kitabnya As-Shahih)
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Rasul bersabda: ”Kursi itu terbuat dari intan permata yang luas dan panjangnya tidak ada yang mengetahui kecuali Allah”.(HR.Ibnu Asakir dalam kitabnya at-Tarikh)
Berkata Abu Musa al-A’sari: Kursi itu adalah tempat kaki-Nya Allah
Ibnu Abbas: Yang dimaksud dengan Kursi adalah ilmu-Nya Allah pendapat ini dikuatkan oleh Imam Thabari.
قال البيهقي: وروينا عن ابن مسعود وسعيد بن جبير عن ابن عباس في قوله {وسع كرسيه} قال: علمه.
Berkata Imam Baihaqi: Dan telah kami riwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Said bin Jubair dan Ibnu Abbas di firman Allah “wasi’a kursiyyuhu”, berkata; ilmu-Nya.


[1] Hadits Syafaat:
  • Dari Abu Hurairah, Rasul bersabda:
وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ..
“..Lalu dibentangkan jembatan Jahannam, Rasul bersabda: Aku yang pertama melewatinya dan para Rasul berdo’a saat itu “Ya Allah, selamatkan-selamatkan”..(HR.Bukhari)
  • Dari Abu Hurairah, Rasul bersabda:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُو بِهَا وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي فِي الْآخِرَةِ
Setiap Nabi itu memiliki do’a yang mustajab yang berdo’a dengannya, dan aku menginginkan untuk menyembunyikan do’a ku sebagai syafaat bagi ummatku kelak di akherat. (HR.Bukhari)
  • Dari Anas bin Malik, Rasul bersabda:
شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي
Syafaatku bagi pendosa besar dari umatku. (HR.Abu Daud)
  • Dari Abu Musa, Rasul bersabda:
أَتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فَخَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ فَقَالَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَجْعَلَنَا فِي شَفَاعَتِكَ فَقَالَ أَنْتُمْ وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا فِي شَفَاعَتِي
Telah datang  kepadaku utusan dari Allah dan memberikan pilihan kepadaku ‘dimasukkan setengah umatku ke surga atau syafaat’ maka aku memilih syafaat, Abu Musa berkata “Ya Rasul, jadikanlah kami dari golongan yang mendapat syafaatmu” Rasul bersabda “Kalian dan siapa yang wafat tidak mensekutukan Allah dalam syafaatku. (HR.Ahmad)
  • Dari Abu Musa al-As’ari, Rasul bersabda:
فَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ وَالْمَلَائِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ فَيَقُولُ الْجَبَّارُ بَقِيَتْ شَفَاعَتِي فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنْ النَّارِ فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا
Maka Para Nabi, Malaikat dan orang-orang Mukmin memberikan syafaat, lalu al-Jabbar (Allah) berkata “Yang tersisa syafaat-Ku” lalu Allah mengangkat dari neraka beberapa kaum.. (HR.Bukhari)
  • Dari Anas bin Malik, Rasul bersabda:
يَصُفُّ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صُفُوفًا وَقَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَيَمُرُّ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عَلَى الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا فُلَانُ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ اسْتَسْقَيْتَ فَسَقَيْتُكَ شَرْبَةً قَالَ فَيَشْفَعُ لَهُ وَيَمُرُّ الرَّجُلُ فَيَقُولُ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ نَاوَلْتُكَ طَهُورًا فَيَشْفَعُ لَهُ ..
Manusia berdiri bershaf-shaf di hari Kiamat, berkata Ibnu Numair: Seorang penduduk Surga melewati seseorang penduduk Neraka, berkata: “Wahai Fulan, apakah engkau tidak ingat suatu hari engkau telah meminta minum (kepadaku) lalu aku beri minum (kepadamu), berkata: lalu dia memberikan syafaat kepadanya. Lalu seseorang lewati lagi, maka dia berkata ‘Apakah engkau tidak ingat di hari aku menuangkan air untuk bersuci ?’, lalu diberikan kepadanya syafaat..  (HR.Ibnu Majah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar